Kamis, 04 Februari 2016

Cara Mendidik Anak Agar Bahagia Untuk Kebahagiaan yang Hakiki

 Dikutip dari Tausiah Buya Yahya

Bagaimana cara mendidik anak agar bahagia? bukan sekedar bahagia dunia juga bahagian di akhirat kelak. Berikut ini adalah kutipan dari KH. Yahya Zainul Maarif atau dikenal dengan Buya yahya:

mendidik anak membaca Al-Quran
sumber gambar: agungdodo.wordpress.com

Memiliki buah hati adalah salah satu nikmat Allah SWT yang dikaruniakan kepada kita yang perlu kita syukuri. Karena tidak semua pasangan suami istri di karuniakan keturunan, maka dari itu kita perlu mngerti dalam menjaga nikmat tersebut. Tetapi tidak semua orang tua mengerti bagaimana dalam menjaga nikmat ini. Seperti menjaga keimanan dan akhlaq mereka yang harus kita utamakan. Itu adalah keinginan dan harapan anak-anak agar tidak diucap oleh lidah mereka.



Diantara hal lain yang dibutuhkan anak-anak ada yang lebih dari pentingnya keselamatannya kelak setelah kehidupannya di dunia. Maka orang tua yang cerdas dan bijaksana yaitu orang yang selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak. Jika ada orang tua yang begitu ingin anak-anaknya sekolah samapai ke pendidikan tinggi dengan harapan kelak anaknya dapat memiliki pekerjaan yang layak untuk keluarganya dan menguntungkan dari segi materi. Atau mungkin ada seorang tua membekali modal yang besar untuk anaknya agar dapat mandiri dan makmur dalam kehidupunnya di dunia ini. Sungguh itu adalah orang tua yang cerdas, selalu berfikir pada masa depan buah hati kita. Akan tetapi seorang tua tersebut akan jadi tidak lagi bijak jika ternyata melupakan masa depan yang lebih lama lagi yaitu kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Yaitu ada masa depan nanti di alam barzah yang tidak hanya enam puluh atau seratus tahun tetapi seribu tahun lamanya, bersama penantian itu buah hati kita akan menuai apa yang diperbuat saat di dunia dulunya. Setelah di alam barzah akan dilanjutkan menuju kebahagiaan yang hakiki atau kesenangan yang hakiki di syurga atau di neraka.

Nah, Orang tua mana yang rela jika anaknya sendiri di siksa di alam barzah dan di akhirat nanti? Disiksa karena orang tuanya sendiri tidak prnah memikirkan masa depan mereka sesudah kehidupan ini. Disiksa anak kita karena sebagai orang tua tidak memikrkan bekal anak-anak kita kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Kebanyakan orang tua akan mudah tanggap jika anaknya gagal ujian akhir sekolah atau di universitas, atau gagal dalam usaha dagannya. Akan tetapi mengapa kita tidak mudah tanggap dengan anak kita sendiri yang malas dalam melaksanakan solat atau mualai melakukan sesuatu yang Alloh tidak suka atau dilarang oleh Alloh SWT? Sesungguhnya bahasa cinta suatu bahasa yang amat indah dan akan menghadirkan keindahan. Cinta yang sebenarnya kepada anak akan diterjemahkan dengan kepedulian terhadap masa depan anak. Juga tidak ada masa depan yang sesungguhnya selain masa depan di akhirat. Bukan Cinta kasih yang sesungguhnya bagi orang tua yang hanya ingin membahagiakan anaknya selama enam puluh tahun sepanjang hidup dindunia lalu melupakan kehidupan yang lebih lama setelah di dunia ini.

Orang tua yang berani membiayai sekolah anaknya untuk mencari ilmu dunia dengan biaya yang tidaklah murah pasti akan rela membiayai anaknya sendiri untuk mengambil bekal di akhirat dengan biaya yang lebih mahal. Kalau di hati tumbuh rasa ragu untuk itu maka sangat diragukan kecintaan orang tua tersebut terhadap anaknya bahkan akan mungkin diragukan keimanannya kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia.

Tidak samapai disini, orang tua yang lalai dalam memikirkan kebahagaian anaknya kelak di akhirat akan menemukan kesengsaraan yang amat sangat seperti yang pernah diceritakan oleeh Rasulullah SAW. Yaitu kisah seorang ahli ibadah yang hendak ke syurga akan tetapi tiba-tiba ada yang menyeru di dasar neraka jahanam menginginkan agar orang yang hendak masuk syurga itu dimasukan ke neraka bersamanya. Melihat dari kejadian seperti ini malaikat mengahadap kepada Alloh SWT memerintahkan Malaikat agar menggiring orang tersebut ke neraka. Yaitu ia adalah orang tua yang ahli ibadah, ahli sedekah dan ahli kebaikan akan tetapi membiarkan sang anak tanpa ada bimbingan agar semakin dekat kepada Alloh dan tanpa pembekalan untuk di akhirat. Maka disebabkan keteledoran dalam mempersiapkan masa depan anaknya di akhirat maka ia pun ikut bersama sang anak di neraka. Wallahu a’lam bishshowab.

Sumber: https://www.facebook.com/buyayahya.albahjah/

Artikel Terkait Tausiah

Posting Komentar